
Dalam semangat memupuk kecintaan terhadap budaya bangsa sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas kekayaan kuliner Indonesia, siswa kelas 8 dari SMP Negeri 1 Karanglewas melaksanakan kegiatan Outing Class Tahap 3 yang mengusung tema besar “Bhinneka Tunggal Ika”, dengan subtema menarik “Asyiknya Berkuliner Nusantara: Satu Bangsa, Berjuta Rasa”.
Kegiatan ini berlangsung pada hari Selasa, 15 April 2025, di Desa Pekunden, salah satu desa budaya di Kabupaten Banyumas yang dikenal dengan sentra pembuatan kue khas Banyumas, yaitu mino atau mini nopia. Mino merupakan varian kecil dari kue nopia, makanan khas berbentuk bulat dengan isi gula merah atau varian lain yang populer di wilayah Banyumas dan sekitarnya.

Outing Class kali ini bukan sekadar kunjungan wisata biasa. Konsep kegiatan benar-benar dirancang agar para siswa tidak hanya mengenal kuliner khas daerah, tetapi juga ikut langsung dalam proses pembuatannya. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran P5 yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan praktik langsung sebagai bagian dari pembelajaran.
Tema Bhinneka Tunggal Ika sendiri menjadi landasan utama kegiatan, mengingat keberagaman kuliner nusantara merupakan bukti nyata dari kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Di balik setiap makanan daerah, tersimpan sejarah, tradisi, serta nilai-nilai luhur yang patut dikenal dan dijaga oleh generasi muda.
Kegiatan outing class ini dibagi menjadi tiga sesi utama, agar setiap kelompok siswa mendapatkan pengalaman yang optimal dan bergilir dalam aktivitas pembelajaran yang menyenangkan.
Disana siswa mulai diperkenalkan mengenai sejarah nopia serta mino yang telah menjadi bagian penting dari identitas kuliner masyarakat Banyumas. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Pak Agus, salah satu pengrajin nopia yang telah membuat kue ini secara turun-temurun.

Dengan penuh semangat dan gaya bercerita yang menarik, Pak Agus menjelaskan bagaimana mino dibuat sejak zaman dahulu, bahan-bahan alami yang digunakan, serta proses tradisional yang masih dipertahankan hingga kini. Para siswa tampak sangat antusias mendengarkan, mencatat, bahkan menjawab pertanyaan yang diajukan.
Setelah mendapatkan pengantar budaya dan informasi dasar, para siswa langsung membuat mino secara langsung. Kegiatan ini menjadi momen yang paling dinantikan. Setiap siswa mendapatkan giliran Membentuk bola-bola kecil, Memberi isian gula merah cair, hingga Memasukkan mino ke dalam tungku tanah liat yang telah dipanaskan dengan arang, sesuai dengan teknik tradisional.
Mereka benar-benar merasakan bagaimana tekstur adonan saat masih mentah, bagaimana ketelitian diperlukan saat membungkus isian agar tidak bocor, dan betapa menantangnya menempatkan mino ke dalam tungku yang panas secara hati-hati.

Tak hanya siswa, para guru pendamping pun ikut serta dalam praktik ini. Keterlibatan guru menambah kedekatan dan kebersamaan dalam kegiatan, serta memberikan contoh nyata bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, tidak hanya di ruang kelas.
Setelah mino matang sempurna dan aroma khasnya mulai tercium dari tungku-tungku yang digunakan, para siswa dan guru dipersilakan untuk mencicipi hasil karya mereka. Mino yang baru matang memiliki tekstur renyah di luar dan manis lembut di dalam. Saat disantap bersama teh bunga talang — minuman tradisional dari kelopak bunga telang berwarna biru keunguan yang menenangkan — perpaduan rasa dan sensasi yang muncul sangat menyegarkan dan menambah pengalaman kuliner siswa.
Tak hanya dari sisi kognitif, kegiatan ini juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik siswa. Dalam satu hari, para siswa telah:
- Belajar sejarah dan filosofi makanan tradisional,
- Mempraktikkan langsung proses pembuatan,
- Berinteraksi dengan narasumber lokal yang penuh pengalaman,
- Mengapresiasi hasil karya sendiri dan orang lain,
- Menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa.
Para pengrajin mino menyambut kedatangan siswa dengan sangat terbuka dan hangat. Mereka menyediakan fasilitas, bahan baku, serta tenaga pengajar yang kompeten untuk membimbing siswa. Dukungan ini sangat diapresiasi oleh pihak sekolah.
Kegiatan Outing Class Tahap 3 ini membuktikan bahwa belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Alam, budaya, dan masyarakat sekitar bisa menjadi laboratorium hidup yang menyenangkan dan mendidik. Melalui tema “Asyiknya Berkuliner Nusantara”, siswa tidak hanya belajar membuat makanan, tetapi juga mengenali nilai-nilai kerja sama, menghargai warisan leluhur, dan mengasah keterampilan praktis.

Kegiatan yang diakhiri dengan foto bersama dan dipersilahkan berfoto di tempat tersebut atau bahkan bersama cheff disana. Dan setelah itu setiap siswa dibagikan 1 voucher yang nantinya dapat di tukar dengan souvernir.




